System MANAJEMEN MUTU LABOR IPA
1. Organisasi Laboratorium 
Laboratorium memiliki struktur organisasi yang setiap anggotanya memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing. Kepala sekolah dalam organisasi laboratorium memiliki tugas dan fungsi sebagai penanggungjawab. Kepala sekolah dan kepala laboratorium memiliki hubungan hierarki dalam struktur organisasi laboratorium. Dalam struktur organisasi laboratorium juga ada teknisi dan laboran yang masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsi dalam laboratorium.

2. Personal
Aspek personal dalam manajemen mutu berkaitan dengan kompetensi dari setiap tenaga yang ada di laboratorium. Kompetensi yang harus dimiliki setiap kepala laboratorium, teknisi, dan laboran mengacu pada standar pemerintah No. 26 Tahun 2008. Adapun kompetensi yang harus dimiliki antara lain: 
-           kompetensi kepribadian
-           kompetensi social
-          kompetensi manajerial
-          kompetensi administrative
-          kompetensi professional

3. Equipment
Equipment dimaksud disini adalah peralatan yang ada di laboratorium. Adapun peralatan di laboratorium yaitu tabung reaksi, cawan petri, pipet tetes, pengaduk, gelas ukur, spiritus, dan segala alat yang biasa dipakai dalam praktikum. 

4. Information management
Informasi dibedakan berdasarkan sifatnya ada 2 yaitu akuntabilitas dan responsibilitas. Informasi yang bersifat akuntabilitas adalah informasi yang arahnya vertikal (keatas). Informasi yang bersifat akuntabilitas dapat dikatakan administratif. Informasi yang bersifat responsibilitas adalah informasi yang arahnya horizontal (kiri-kanan dan bawah). Informasi yang responsibilitas ini dapat dikatakan bersama. Saat memanajemen informasi yang ada di laboratorium harus bisa membedakan antara informasi yang bisa dibagikan ke publik dengan informasi yang tidak bisa dibagikan ke publik. Sebagai contoh, kita tidak boleh memberitahukan informasi tentang dimana membeli zat-zat kimia yang sifatnya terlarang karena dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan kriminal. Selain itu, kita sebaiknya melaporkan aliran dana yang ada di laboratorium kepada anggota organisasi laboratorium saja.  

5. Proses Pengendalian
Proses pengendalian lebih menekankan pada penggunaan bahan yang berbahaya terhadap praktikum terutama limbah. Setiap laboratorium harus memiliki tempat pembuangan limbah hasil praktikum. Sebaiknya limbah dibuang di tempat sampah yang berbeda-beda sesuai jenis limbahnya agar tidak terjadi kontaminasi ataupun kecelakaan yang dapat membahayakan keselamatan orang-orang yang ada di laboratorium. Terkait penggunaan bahan yang berbahaya dalam praktikum sebaiknya diganti dengan bahan yang lebih aman bagi keselamatan praktikan akan tetapi fungsinya sama. 

6. Purchasing and Inventory
Sebelum membeli barang untuk laboratorium sebaiknya di data dahulu alat dan bahan yang ada di laboratorium. Alat dan bahan yang ada dicek kelayakannya dan jumlahnya. Apabila stok alat atau bahan tinggal sedikit sebaiknya cepat-cepat dibeli atau dipesan sebelum praktikum dilaksanakan agar tidak menghambat keterlaksanaan praktikum. Inventarisasi alat dan bahan harus terus dilakukan dan dicatat sebagai laporan kepada kepala laboratorium. Inventarisasi yang baik dapat menunjang kemajuan laboratorium.

7. Document and Record
Dokumen yang ada di laboratorium meliputi berita acara serta dokumen-dokumen kegiatan yang ada di laboratorium. Perekaman berkaitan dengan alat yang dipakai di laboratorium. Setiap kegiatan di laboratorium harus terdokumentasi dengan baik sebagai pertanggungjawaban dalam mengelola laboratorium.

8. Occurred Management  
Manajemen terkait penyimpangan di laboratorium ditekankan pada antisipasi. Keamanan dan keselamatan di laboratorium harus dibuat standar operasional prosedur (SOP). 

9. Assesment 
Penilaian merupakan target ketercapaian untuk setiap jenis layanan yang ada di laboratorium. Setiap kegiatan yang ada di laboratorium haruslah dievaluasi atau dimonitoring.

10. Facility and Safety
Fasilitas yang mendukung keselamatan kerja di laboratorium antara lain: ventilasi, lemari asam, alat pemadam kebakaran, aliran listrik, aliran air, dan sebagainya. Selain itu, gunakanlah baju lab, masker dan sarung tangan saat praktikum guna perlindungan diri dari bahaya zat ataupun alat. 

11. Customer service
Kerja customer service adalah piket terhadap kebersihan dan pelayanan yang ada di laboratorium. Sekolah yang laboratoriumnya tidak memiliki customer service bisa meminta siswa untuk membantu saat ada praktikum akan tetapi tidak mengganggu aktivitas belajar siswa tersebut. 

12. Process improvement 
Proses kemajuan terhadap laboratorium dapat dilakukan dengan cara merefleksi setiap kegiatan yang ada di laboratorium. Refleksi ini sangat penting dilakukan guna kemajuan laboratorium. Tanamkanlah prinsip: Hari ini lebih baik dari hari kemarin.

A.    Pengertian Manajemen Laboratorium
Menurut Herujito, Yayat M (2006:1) Secara umum manajemen sering didefinisikan sebagai, “Getting things done through other people – menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain”. Telah disebutkan berkali-kali bahwa supervisor merupakan manajer lini terdepan yang melaksanakan pekerjaan manajemen untuk merencanakan, mengorganisir, mengeksekusi rencana, serta mengendalikan dan mengontrol proses pekerjaan menuju hasil yang diharapkan.
Oleh karena itu supervisor wajib bekerja secara :
  1. Efektif, melakukan sesuatu dengan membawa hasil.
  2. Efisien, melakukan sesuatu dengan hemat sumber daya.
           Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses disini adalah cara yang sistematis untuk melakukan sesuatu. Semua manajer, apapun keahlian dan keterampilan mereka, akan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
B.     Fungsi Manajemen Laboratorium
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengkoordinasi, dan mengendalikan.
Fungsi-fungsi manajemen dari manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Sedangkan yang akan dibahas dalam makalah ini hanya tiga point, yaitu : perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian.
  1. Perencanaan (planning)
adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan adalah memerinci tujuan-tujuan yang akan dicapai dan memutuskan di awal tindakan-tindakan tepat yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan.
Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan. Fungsi perencanaan (planning) meliputi pendefinisian tujuan suatu organisasi,  penentuan strategi keseluruhan untuk mencapai tujuan tersebut, dan pengembangan serangkaian rencana komprehensif untuk menggabung dan mengoordinasasi berbagai aktivitas.
Seorang manajer yang efektif hendaknya sadar bahwa isi porsi dari waktu yang tersedia baginya diabdikan untuk menyusun berbagai rencana. Bagi manajer personal, perencanaan berarti menetapkan terlebih dahulu program-program kepegawaian yang dapat memberi andil terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan organisasi. Tujuan atau sasaran sering kali ditetapkan secara bersamaan dengan proses perencanaan. Setelah mengetahui sasaran yang akan dituju maka supervisor harus membuat rencana untuk mencapainya.
Aktivitas perencanaan meliputi :
  1. Menganalisis situasi-situasi saat ini,
  2. Mengantisipasi masa depan,
  3. Menentukan sasaran-sasaran,
  4. Menentukan jenis aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan perusahaan,
  5. Memilih strategi-strategi korporat dan bisnis, dan
  6. Menentukan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Perencanaan mengatur situasi untuk bertindak dan untuk pencapaian-pencapaian yang utama. Kegiatan biasanya didasarkan pada suatu metode, rencana atau logika tertentu, sehingga perlu direncanakan.
Fungsi perencanaan untuk lingkungan bisnis yang baru lebih bersifat dinamis, yang dijelaskan sebagai menyampaikan nilai strategis. Secara historis, perencanaan menggambarkan pendekatan dari atas ke bawah yang dengannya para eksekutif tingkat atas membangun rencana-rencana bisnis dan memerintahkan orang lain untuk menerapkannya. Pada masa sekarang dan mendatang, menyampaikan nilai strategis adalah proses berkesinambungan, yang didalamnya orang-orang di seluruh organisasi menggunakan otak mereka dan otak konsumen, pemasok, dan para pihak yang berkepentingan lainnya untuk mengidentifikasi kesempatan-kesempatan untuk menciptakan, menangkap, memperkuat, dan mempertahankan keunggulan kompetitif.
  1. Pengorganisasian (organizing)
Dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
Setelah program-program disusun dan ditetapkan, perlu dibentuk organisasi yang akan melaksanakan program-program tadi. Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, mnajemen personal harus membentuk organisasi dengan cara merancang struktur yang menggambarkan hubungan antar tugas-tugas, antara pegawai, dan antar-antar factor fisik.
Pengorganisasian adalah proses yang meliputi penentuan tugas yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakan tugas tersebut, bagaimana mengelompokkan tugas tersebut, siapa melapor kepada siapa, dan dimana keputusan-keputusan itu dibuat. Dalam hal pengorganisasian tugas supervisor adalah membagi pekerjaan kepada anggota kelompoknya.
Pengorganisasian (organizing) adalah mengumpulkan dan mengoordinasikan manusia, keuangan, hal-hal fisik, hal yang bersifat informasi, dan sumber daya lainnya yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.
Aktivitas-aktivitas pengorganisasian, yaitu :
  1. Menarik orang-orang ke dalam perusahaan,
  2. Menentukan tanggung jawab pekerjaan,
  3. Mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan ke dalam unit kerja,
  4. Menyusun dan mengalokasikan sumber daya,
  5. Menciptakan kondisi yang memungkinkan orang-orang dan hal-hal lainnya bekerja sama untuk mencapai kesuksesan maksimum.
Fungsi pengorganisasian sebagai mencipatakan sebuah organisasi yang dinamis. Secara historis, pengorganisasian meliputi menciptakan sebuah bagan organisasi dengan mengidentifikasi fungsi-fungsi bisnis, membangun hubungan-hubungan pelaporan, dan memiliki departemen personalia yang mengurus rencana-rencana, program-program dan kertas kerja.
Pada masa sekarang dan mendatang, para manajer yang efektif akan menggunakan bentuk-bentuk pengorganisasian yang baru dan memandang orang-orang mereka mungkin sebagai sumber daya yang paling berharga. Mereka akan membangun organisasi yang adaptif dan fleksibel, khususnya sebagai respon terhadap ancaman-ancaman persaingan dan kebutuhan konsumen. Praktik-praktik sumber daya manusia yang semakin maju, menarik, dan mempertahankan orang-orang yang sangat baik dari sebuah populasi yang sangat beragam, akan menjadi aspek-aspek penting dari perusahaan yang berhasil. Para manajer mengkoordinasikan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Bila pekerjaan makin terpadu dan terkoordinasi, organisasi pun akan makin efektif.
Secara khusus, pengorganisasian mencakup penentuan bagaimana cara mengelompokkan berbagai aktivitas dan sumber daya. Salah satu pengahalang utama yang dihadapi adalah hierarki yang kaku dan birokratis yang menyebabkan adanya pemikiran yang picik dan keterbatasan inovasi. Sehingga menciptakan suatu organisasi yang yang lebih organik dan fleksibel yang pada akhirnya menjadi lebih responsive dan melihat kedepan. Elemen-elemen dasar dari pengorganisasian yaitu seperti perancangan pekerjaan, departementalisasi, hubungan otoritas, rentang kendali, serta peran lini dan staf.
  1. Pengendalian (Controlling)
Pengendalian atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula. Supervisor harus tetap menjaga agar semua anak buah bergerak dalam rel yang benar dan menuju sasaran. Salah satu cara untuk mengendalikan anak buah adalah dengan memeriksa laporan mereka.
Pengendalian berfungsi untuk memantau aktivitas untuk memastikan aktivitas tersebut diselesaikan seperti yang telah direncanakan dan membetulkan penyimpangan-penyimpangan yang signifikan. Kegiatan-kegiatan yang yang biasa dilakukan dalam proses pengendalian berupa observasi terhadap kegiatan-kegiatan dengan perencanaan. Disamping itu, juga melakukan koreksi-koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi selama rencana sedang dijalankan. Berarti para manajer berusaha agar perusahaan bergerak kearah tujuannya. Apabila ada bagian organisasi yang bergerak ke arah yang salah, para manajer berusaha untuk mencari penyebabnya dan kemudian mengarahkan kembali ke tujuan yang sesuai. 
Pengendalian merupakan fungsi manajemen untuk memantau kinerja dan mengimplementasikan perubahan-perubahan yang diperlukan. Melakukan pemantauan adalah aspek penting dari pengendalian. Kegagalan-kegagalan pengawasan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Fungsi pengawasan memastikan agar tujuan-tujuan dapat dicapai. Fungsi ini bertanya dan menjawab pertanyaan. Fungsi ini melakukan penyesuaian-penyesuaian jika diperlukan. Organisasi-organisasi yang berhasil, baik besar maupun kecil, memberikan perhatian yang cermat pada fungsi pengawasan.
Pengawasan harus tetap dijalankan. Akan tetapi, teknologi dan inovasi-inovasi yang baru lainnya menjadikan kita dapat melakukan pengawasan dengan cara-cara yang lebih efektif, membantu semua orang di dalam perusahaan melintasi batas perusahaan (termasuk konsumen dan para pemasok), menggunakan otak mereka, belajar, memberikan berbagai konstribusi yang baru, dan membantu organisasi berubah dalam cara-cara yang akan membentuk masa depan yang sukses. 
C.    Perangkat-perangkat Manajemen Laboratorium
Untuk mengelola Laboratorium yang baik kita harus mengenal perangkat-perangkat apa yang harus dikelola. Perangkat-perangkat manajemen lab itu adalah :
  1. Tata ruang (lab lay out)
  2. Alat yang baik dan terkalibrasi
  3. Infrastruktur
  4. Administrasi
  5. Inventory & Security
  6. Safety Use
  7. Organisasi
  8. Budget-fasilities
  9. Disiplin yang tinggi
  10. Skill (Keterampilan)
  11. Peraturan Dasar
  12. Penanganan masalah Umum
  13. Jenis-jenis pekerjaan.
Semua perangkat-perangkat ini jika dikelola secara optimal, akan memberikan optimalisasi manajemen lab yang baik. Dengan demikian manajemen lab itu adalah suatu tindakan pengelolaan yang komplek dan terarah, sejak dari perencanaan tata ruang (lab-lay-out) sampai dengan semua perangkat -perangkat penunjang lainnya. Semua perangkat- perangkat tersebut sebagai pusatnya (core activities) adalah Tata Ruang (Lab Lay Out).
 D. Pengelolaan Laboratorium Sekolah
Pembelajaran IPA saat ini seharusnya menghasilkan siswa yang menghargai beragam cara di mana para ilmuwan melakukan pekerjaannya, memahami pentingnya pengamatan, pengetahuan dan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang dapat diuji melalui percobaan (merumuskan masalah), membuat hipotesis, menggunakan berbagai bentuk data untuk dapat menemukan pola, mengkonfirmasi atau menolak hipotesis, membangun dan mempertahankan model atau argumen, mempertimbangkan untuk mengajukan penjelasan alternatif, dan mendapatkan pemahaman tentang kesementaraan ilmu, termasuk aspek-aspek ilmu pengetahuan manusia, seperti subjektivitas dan pengaruh sosial. Untuk memberlakukan pembelajaran IPA sebagai penyelidikan mengharuskan guru mengembangkan pendekatan dengan menempatkan pembelajaran berdasarkan masalah nyata, memodelkan kerja ilmuwan untuk membimbing dan memfasilitasi siswa agar sensitif terhadap data, dan memberikan dukungan kepada siswa dalam mengembangkan pemahaman pribadinya tehadap konsep IPA.
                Saat ini tampaknya banyak guru memiliki kesulitan menciptakan lingkungan kelas yang berbasis penyelidikan, dan yang mendukung siswa dalam mengembangkan wawasan informasi tentang penyelidikan ilmiah dan hakikat IPA (Crawford, 2006). Seperti telah diketahui, faktor penghambat kegitan praktikum di sekolah adalah tidak tersedia laboratorium, laboratorium dipakai untuk ruang kelas, kekurangan peralatan dan bahan, kurangnya waktu persiapannya, serta tidak adanya petugas laboratorium (laboran) yang berfungsi untuk mengelola laboratorium tersebut. Tak sedikit sekolah yang memiliki laboratorium lengkap, tetapi tidak digunakan dengan maksimal. Praktikum di laboratorium membutuhkan persiapan sebaik mungkin, baik dari segi fasilitas maupun dari guru itu sendiri. Oleh sebab itu, pemahaman guru terhadap kegiatan praktikum di laboratorium menjadi faktor pendukung atau penghambat keterlaksanaan praktikum.
                Di sekolah, siswa diajarkan dalam berbagai cara, di mana guru menggunakan bahan-bahan sumber yang berbeda untuk ruang kelas yang memiliki ukuran yang tidak sama. Rata-rata pencapaian di siswa kelas, sampai batas tertentu, tergantung pada cara guru memberikan pembelajaran. Dengan demikian, kinerja guru dapat ketahui berdasarkan tingkat penggunaan bahan pengajaran yang kreatif, kualitas bahan-bahan tersebut, teknik pengajaran yang efektif digunakan, sumber daya yang tersedia bagi mereka, dan penggunaan sumber daya tersebut selama proses belajar mengajar. Guru-guru IPA di semua tingkatan kelas memerlukan berbagai bahan dan instrumen untuk memfasilitasi investigasi siswa.Strategi pembelajaran dengan investigasi berbasis laboratorium memungkinkan siswa untuk bertanya, mengeksplorasi, dan mengamati fenomena alam yang dibawa ke dalam kelas, untuk memfasilitasi kemampuan investigasi siswa. Oleh karena itu, keselamatan merupakan bagian penting dari proses perencanaan pembelajaran, baik pembelajaran terjadi di dalam kelas, di lapangan, atau di laboratorium.
                Strategi pembelajaran dengan investigasi berbasis laboratorium perlu didukung oleh fasilitas laboratorum. Lingkungan laboratorium yang efektif untuk mendukung pembelajaran memerlukan kondisi sebagai berikut: guru harus mempersiapkan dan merencanakan kelas dan memiliki pengalaman sebelumnya dalam percobaan, siswa harus memiliki pra-pengetahuan konseptual tentang percobaan, siswa harus disediakan lingkungan untuk menggunakan dan memperkuat pengetahuan tersebut; menggunakan keterampilan dasar dan tingkat tinggi proses IPA, praktikum harus dihubungkan antara mata pelajaran yang diajarkan di kelas atau laboratorium dan kehidupan sehari-hari mereka, dan lingkungan laboratorium harus memperkenalkan inovasi. Selanjutnya, keselamatan laboratorium harus efektif selalu dilaksanakan dan kesadaran keselamatan itu sendiri harus ditingkatkan di kalangan siswa (FEYZİOĞLU, 2009).
                . Komponen-komponen yang telah dijelaskan tersebut merupakan bagian dari pengelolaan laboratorium. Agar laboratorium IPA di sekolah dapat berperan, berfungsi dan bermanfaat maka diperlukan sebuah sistem pengelolaan laboratorium yang direncanakan dan dievaluasi dengan baik serta dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan laboratorium IPA di sekolah yang bersangkutan. Pengelolaan laboratorium merupakan unsur yang sangat penting selama proses pembelajaran, terutama ketika pembelajaran melibatkan kerja praktek. Pengelolaan dan administrasi laboratorium adalah proses untuk menentukan bahwa kegiatan praktikum di laboratorium dapat dilaksanakan secara efektif. Artinya, fungsi pengelolaan laboratorium memastikan peralatan dalam fasilitas laboratorium harus memadai. Peralatan dan bahan yang terdapat di laboratorium harus dijaga dan dimanfaatkan sepenuhnya. Dengan pengelolaan laboratorium yang efektif, siswa mempunyai kesempatan yang cukup untuk menggunakan peralatan laboratorium yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Pengelolaan laboratorium IPA meliputi aspek-aspek yang perlu ditangani, seperti peralatan yang tidak memadai, ruang yang terbatas, tidak nyaman untuk bergerak, kegagalan atau kerusakan peralatan sehingga membuat hasil yang tidak memuaskan. Kondisi peralatan dan bahan tersebut harus dipantau secara sistematis oleh manajemen untuk memastikan bahwa pelayanan laboratorium secara konsisten memenuhi kebutuhan situasi belajar mengajar setiap saat.
                Salah satu aspek penentu dalam pengelolaan laboratorium adalah akuntabilitas dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga laboratorium yang sangat membantu dalam membentuk kualitas laboratorium. Elemen tenaga laboratorium merupakan bagian dari manajemen mutu untuk memastikan bahwa aspek kunci dapat diimplementasikan secara efisien. Dengan berlakunya Permendiknas Nomor 26 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah, setiap sekolah dapat memiliki tenaga laboratorium yang terdiri atas kepala laboratorium, teknisi laboratorium, dan laboran. Dengan dilengkapinya tenaga laboratorium di sekolah diharapkan pengelolaan laboratorium dapat berjalan efektif sehingga mendukung pembelajaran berbasis praktikum di laboratorium. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di sekolah sehingga dapat mendukung tercapainya semua kompetensi siswa, terutama kompetensi yang harus dicapai melalui kegiatan laboratorium.
                Dengan pengelolaan yang baik, semua kondisi alat dapat terpantau sehingga kalau ada kekurangan dapat di antisipasi dari awal. Pengelolaan alat dan bahan praktikum meliputi kegiatan inventarisasi dan pengadaan. Rancangan pengadaan alat dan bahan untuk satu tahun ke depan harus dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan dan ketersediaan. Ada tidaknya alat atau bahan praktikum dapat dimonitor atau dilihat dari daftar inventarisasi yang dibuat. Dari daftar itu jelas kelihatan, bahan atau alat-alat yang kurang, yang rusak, yang memerlukan perbaikan dan sebagainya. Begitu pula dengan pengelolan jadwal kegiatan laboratium yang baik sangat membantu proses pelaksaaan pembelajaran berbasis praktikum karena terencana dari awal.Koordinasi antar seluruh pemakai laboratorium (guru IPA) intensif dilakukan guna menjamin atau memastikan tidak ada masalah dalam penjadwalan dan pemakain ruang laboratorium.
               




DAFTAR PUSTAKA

Herujito, Yayat M. 2006. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : PT. Grasindo.
Sirait, Justine T.2010 -. Memahami Aspek-aspek Pengelolaan SDM dalam Organisasi. Jakarta : Grasindo.
Nur Raina Novianti.2011. Koontribusi Pengelolaan Laboratoriumdan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Efektivitas Proses Pembelajaran, Edisi khusus No.1.Jawa Barat: Kencana.
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi
http://pj-fisika.com/2012/11/pengelolaan-laboratorium.html
http://www.m-edukasi.web.id/2013/03/pengelolaan-laboratorium-ipa-di-sekolah.html
http://id.scribd.com/doc/144097116/Struktur-Organisasi-Lab-Ipa
http://abutholhah.wordpress.com/manajemen-laboratorium-ipa/


Dari uraian diatas, saya mengajak pembaca untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan berikut.
1.      PADA SUATU SEKOLAH SELAYAKNYA MEMILIKI STRUKTUR ORGANISASI LABOR, JIKA HANYA ADA SATU GURU, DAPATKAH GURU TERSEBUT MERANGKAP SEBAGAI KEPALA LABOR, LABORAN DAN TEKNISI SEKALIGUS?
2.      APAKAH MANAJEMEN MUTU LABORATORIUM IPA DI INDONESIA SUDAH SESUAI STANDAR?
3.      DALAM DUNIA PENDIDIKAN, SETIAP SEKOLAH DIADAKAN AKREDITASI. APAKAH ADA AKREDITASI LABOR IPA?

Komentar

  1. terimakasih atas artikelnya buk. saya tertarik berdiskusi mengenai pertanyaan pertama yang memang sering kita jumpai disekolah-sekolah. jika hanya mempunyai 1 guru, dapatkah guru tersebut merangkap sebagai semuanya? tentu bisa, namun apakah akan efektif? menurut saya hal ini tidak akn efektif karena guru harus menjadi kepalalaor, lalu laboran, teknisi sekaligus guru mata pelajaran. semua itu akan menghabiskan waktu praktikum, karena guru harus mempersiapkan alat praktikum sendiri, mengajar,mengawasi lalu menyelesaikannya sendiri. selain itu akan membuat lab mempunyai standar mutu yg kurang, karena guru tidak mungkin hanya berfokus pada lab sedangkan jadwal mengajar dan tugas lainnya juga banyak.terimakasih

    BalasHapus
  2. terima kasih....
    DALAM DUNIA PENDIDIKAN, SETIAP SEKOLAH DIADAKAN AKREDITASI. APAKAH ADA AKREDITASI LABOR IPA?
    ada. karena dengan akreditasi labor maka manajemen lab akan sesuai dengan standar lab.
    di sana terangkap dari fasilitas, pembukuan hingga keamanan. sehingga baik kepsek, guru dan tenaga lab akan merasa aman dan nyaman.

    BalasHapus
  3. Menanggapi pertanyaan terakhir yaitu Dalam Dunia Pendidikan, setiap Sekolah diadakan Akreditasi. Apakah ada Akreditasi Labor IPA?
    Akreditasi Laboratorium tntunya ada dan diatur dalam Komite Akreditasi Nasional yang memiliki tujuan untuk memberikan standarisasi terhadap Laboratorium.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  4. Menanggapi pertanyaan no.1
    Menurut saya tidak efisien jika apabila guru merangkap menjadi kepala labor, laboran dan teknisi sekaligus karena sesungguhnya setiap bagian memiliki tugasnya masing-masing, apabila semuanya dikerjakan oleh guru maka akan menghabiskan waktu yang cukup banyak dan juga tugas sebagai guru dalam proses pembelajaran akan mengalami ketertinggalan.

    BalasHapus
  5. menanggapi pertanyaan no.3 mengenai DALAM DUNIA PENDIDIKAN, SETIAP SEKOLAH DIADAKAN AKREDITASI. APAKAH ADA AKREDITASI LABOR IPA?
    menurut saya pasti ada dan akreditasi laboratorium dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) . Guna memenuhi tuntutan tersebut diperlukan standardisasi laboratorium agar nantinya laboratorium penguji tersebut dapat dikategorikan menjadi laboratorium standar. Definisi dari laboratorium standar adalah laboratorium yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam standar yang diacu (ISO/IEC 17025 – 2005).

    terima kasih.

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
    Ada. akreditasi laboratorium dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) . Untuk memenuhi tuntutan tersebut diperlukan standardisasi laboratorium agar nantinya laboratorium penguji tersebut dapat dikategorikan menjadi laboratorium standar.
    Terima kasih

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Baiklah saya akan mencoba menjawab soal no.1
    Menurut saya jika ditinjau secara struktur organisasi pengelola laboratorium IPA secara ideal tentu tidak boleh merangkap. tetapi terkait kasus diatas maka tentu boleh dengan syarat guru tersebut harus mampu melakukan manajemen laboratorium secara baik sebagai kepala labor, laboran maupun teknisi.

    BalasHapus
  9. PADA SUATU SEKOLAH SELAYAKNYA MEMILIKI STRUKTUR ORGANISASI LABOR, JIKA HANYA ADA SATU GURU, DAPATKAH GURU TERSEBUT MERANGKAP SEBAGAI KEPALA LABOR, LABORAN DAN TEKNISI SEKALIGUS? menurut saya boleh saja namun dalam hal ini pekerjaan yang dilakukan tidak efektif walaupun guru tersebut mengerti semuanya, hal ini akan berdampak pada manajement waktu yang dilakukan dengan terlalu banyaknya tugas padanya

    BalasHapus
  10. APAKAH MANAJEMEN MUTU LABORATORIUM IPA DI INDONESIA SUDAH SESUAI STANDAR?
    jika pertanyaan seperti itu, maka indonesia memiliki standart sendiri untuk sebuah mutu labor, namun yang jadi kendala sebenarnya labor dimasing2 sekolah lah yang seharus nya dipertanyakan, sesuaikan dengan standart yang ada di indonesia atau belum....

    BalasHapus

Posting Komentar